Jumat, Februari 12, 2010

12 Februari 2010

Hari ini terjadi sesuatu yang besar dengan diriku. Aku kaget. Aku syok. Dan, ternyata, aku salah. Sangat amat salah. Aku iri. Aku benci. Aku marah. Aku galau. Aku murka. Tapi, akhirnya, aku kalah. Aku merasa nista.

Siapa aku sampai-sampai berani iri, benci, marah, galau, murka. Siapa aku? Seharusnya aku tidak begitu. Namun, ternyata aku bisa begitu. Ya, karena aku manusia biasa. Biasa menyakiti. Biasa salah. Biasa menyebalkan. Biasa yang jelek-jelek.

Sesungguhnya engkau teman, rekan, sahabat, saudara, orangtua, keluarga, yang menyadarkan aku. Terima kasih. Terima kasih. Padahal, aku ini membalas susu yang kau berikan dengan air tuba. Duh, betapa jahatnya aku.

Sesungguhnya tetapi seharusnya aku sudah dewasa. Seharusnya aku bisa. Seharusnya aku mampu. Namun, ternyata aku memilih sengaja untuk tidak bisa, untuk tidak mampu, untuk salah. Duh, betapa jahatnya aku.

Seharusnya aku tidak iri dengan engkau wahai teman, rekan, sahabat, saudara, orangtua, keluarga. Mungkin engkau lebih beruntung daripada aku. Namun, siapa aku bisa dan berani menilai demikian? Bukankah aku juga lebih beruntung dari sesamaku?

Rasa ini harus aku curahkan. Harus aku tumpahkan. Semoga, dengan begitu, aku menjadi lebih lega. Semoga juga aku menjadi lebih bisa, lebih enjoy, dan baru serta mampu memulai dan menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Seharusnya aku mencintaimu wahai engkau semuanya. Namun, aku memilih untuk membencimu. Maafkan aku.

Dan izinkan aku memasuki gerbang kehidupan baru.

Semoga lebih baik.

dedicated to you all

0 komentar: