
the world is precious a gift to you and me
i suggest we treat her right with love and dignity
Penggalan lirik lagu Can You Hear What I'm Saying dari grup Toto itu mungkin senada dengan semangat Festival Kemilau Seni Budaya Benua Etam yang ingin bercerita tentang manusia dan alam. Kedua unsur kehidupan itu tampak meski samar-samar dari tarian, atraksi, lagu, dan musik yang dipentaskan.
Salah satunya adalah Tari Murip Mering (hidup baru).
Tarian itu dibawakan oleh kalangan orang Kayan dari Kampung Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur. Tarian menceritakan bersyukurnya orang (Dayak) Kayan yang telah menemukan tempat atau kampung baru untuk hidup.
Orang Kayan diyakini pernah dan masih mendiami dataran tinggi Apokayan, Kabupaten Malinau. Dari sana puluhan tahun lalu sebagian dari mereka menyebar ke daerah lain. Mereka pindah untuk mencari lahan pertanian yang lebih subur dan mendekatkan diri dengan pelayanan publik.
Namun, sejarah ternyata tidak bisa hilang begitu saja. Perpindahan fisik tetap tidak akan mampu mencabut energi yang terlanjur tertanam di tanah asal. Kenangan akan tanah leluhur masih membekas dalam ingatan mereka.
Nah, itulah pesan yang ingin disampaikan dalam lagu Long Kayan. Lagu itu dilantunkan oleh empat penyanyi dari Kampung Miau Baru. Lagu itu ingin menceritakan keindahan dan kerinduan orang Kayan akan kawasan yang dilalui Sungai (Long) Kayan tempat mereka atau leluhur pernah tinggal.
Di sisi lain, pergerakan dan aktivitas manusia kerap menghasilkan perjumpaan dengan budaya lain. Namun, budaya baru tidak selalu selaras dengan kehidupan.
Di sinilah pesan Tari Dako (aku) yang dibawakan kalangan remaja dari Kabupaten Nunukan kuat terasa. Daerah di Kaltim paling utara ini berbatasan dengan Negara Bagian Sabah dan Sarawak, Malaysia.
Tari yang dalam bahasa (Dayak) Tidung itu ingin menggambarkan bahwa suatu kebudayaan harus punya prinsip. Hidup berdampingan dengan negara lain memang menghasilkan perjumpaan dengan budaya-budaya asing. Ada yang bisa diterima tetapi ada juga yang ditolak.
Oleh sebab itu, di awal tarian para penari memakai kaca mata hitam dan kain ikat kepala. Itulah simbol dikenakannya budaya asing. Gerak tarian pun ada yang mengadopsi break dance yang populer 1980-an.
Namun, aksesori itu kemudian dilepas dan diganti dengan pakaian untuk menari jepen. Gerak tari ala barat pun dihilangkan. Para remaja itu dengan lincahnya menari jepen.
Inilah simbol bahwa norma dan budaya asal lebih sesuai dengan kehidupan kita.
Judul tarian itu membuat saya teringat penggalan sajak …aku ingin hidup seribu tahun lagi… karya Chairil Anwar. Suatu kebudayaan seharusnya tetap bisa bertahan meski tidak harus terjebak dalam ke-aku-an yang kaku tetapi luwes atau dinamis dan tegar.
Untuk itulah, agar hidup selalu selaras, pesan para tetua dan orangtua yang bijaksana patut dianut. Ya, inilah pesan lagu Ngaten Jenay yang dilantunkan kalangan remaja (Dayak) Kenyah asal Kabupaten Bulungan.
Dalam suatu pesta di masyarakat Kenyah, pelbagai acara yang disuguhkan pasti menarik. Namun, inti pesta yang tidak boleh ditinggalkan adalah mendengarkan petuah para tetua atau orang bijak. Petuah diperlukan agar manusia bisa hidup selaras dengan alam.
Tari, atraksi, dan lagu lainnya ada yang menceritakan pemuda desa gelisah di perantauan karena rindu kampung halaman. Ada juga yang menceritakan potensi suatu daerah yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Ada pula yang ingin berpesan bahwa kalangan pemuda jangan melupakan budaya dan nilai-nilai agama.

Pesisir sampai Pedalaman
Seperti dua pergelaran serupa sebelumnya, materi acara mencerminkan kebudayaan pesisir, kerajaan, dan pedalaman. Di luar itu ialah kebudayaan etnis pendatang. Yang terakhir kayaknya bisa dibagi dalam tiga kelompok tersebut.
Pesisir dikaitkan dengan kehidupan nelayan dan pelaut yang diduga dipengaruhi peradaban Melayu-Islam. Kebudayaan pesisir Kaltim dan daerah lain hampir mirip. Contoh konkret ialah tarian jepen di Kaltim disebut japin di Sumatera. Unsur pakaian dan gerak keduanya tidak jauh berbeda.
Kerajaan dikaitkan dengan berdirinya sejumlah kerajaan dan kesultanan di Kaltim. Kebudayaan kerajaan mungkin yang terkaya sebab menjadi tempat pertemuan pelbagai peradaban. Ada pengaruh Hindu, Melayu-Islam, dan penduduk asli. Namun, itu semua tidak teridentifikasi dalam festival tahun ini.
Pedalaman dikaitkan dengan peradaban penduduk asli atau disebut Dayak. Dikatakan pedalaman sebab mereka hidup di lembah, perbukitan, bantaran sungai, hutan, atau gua yang sulit dijangkau.
0 komentar:
Poskan Komentar