Rabu, Desember 03, 2008

3 Desember


Tiga Malam Berhias Tiga Ribu Pelita
Terang benderang di lapangan Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer (Stimik) Samarinda, Jalan Bangeris, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (27/9) malam.
Kalangan warga asal Gorontalo, Sulawesi, menyalakan 3.000 botol lampu minyak tanah. Botol-botol digantung pada kawat berbaris sehingga memenuhi lapangan. Ada juga yang digantung membentuk pola tulisan Tumbilo Tohe dalam bahasa Gorontalo yang berarti menyalakan lampu.
“Ini tradisi leluhur kami dari Gorontalo yang baru sekali ini diperkenalkan di Samarinda,” kata Sulaiman, warga sekitar Stimik Samarinda asal Gorontalo, malam itu.
Lampu-lampu itu dinyalakan cuma waktu malam di hari ke-27, ke-28, dan ke-29 dalam Ramadan. Untuk itu, di tahun ini, lampu dinyalakan pada Jumat sampai Minggu atau tiap malam kurun akhir pekan lalu.
Kalangan orang Gorontalo memercayai malam Lailatul Qadar jatuh pada salah satu hari di antara tiga malam tadi. Lailatul Qadar diyakini sebagai satu malam yang amat mulia dimana para malaikat turun ke bumi untuk menghitung ibadah puasa manusia. Selain itu juga dipercaya sebagai malam diwahyukannya Al-quran. Malam itu jatuh pada salah satu tanggal ganjil dalam sepuluh hari terakhir puasa.
“Tumbilo Tohe untuk menerangi Lailatul Qadar dan menunjukkan jalan kepada malaikat,” kata dr N Darwis Toena, SpKK, Ketua Kerukunan Keluarga Indonesia Gorontalo (KKIG) Cabang Samarinda.
Tradisi di Gorontalo, lanjut Darwis, pemilik rumah memasang lampu-lampu dari pintu halaman hingga ke pintu masuk rumah. Dianjurkan memasang lebih banyak lampu seperti di pagar, jalan depan rumah, dan sekeliling tempat tinggal.
Tumbilo Tohe, menurut Nanang, warga asal Gorontalo, merupakan tradisi ratusan tahun. Lampu dinyalakan untuk menerangi kampung yang dahulu tak berlistrik. Lampu dibuat dari pepaya mentah yang kemudian diisi minyak kelapa dan diberi sumbu kapas.
“Para pemuda yang mengagas Tumbilo Tohe di Samarinda tak sempat mencari pepaya yang banyak sehingga diputuskan memakai botol,” kata Sulaiman.
Darwis mengatakan, ada sekitar 1.000 keluarga asal atau keturunan orang Gorontalo di Samarinda. Ternyata hampir semuanya masih melestarikan tradisi memasang lampu-lampu di sekeliling rumah menjelang berakhirnya Ramadan.
Untuk itu, gagasan pemuda untuk membuat Tumbilo Tohe yang massal disambut baik KKIG. Awalnya, lokasi yang dipilih ialah jalur tepian Sungai Mahakam yang cukup lebar dan berkilo-kilo meter panjangnya. Namun, akan diperlukan lebih banyak lampu dan sulit mengawasinya agar tidak terjadi kebakaran.
“Di Gorontalo, Tumbilo Tohe dilombakan. Ada yang antarkampung atau kecamatan,” kata Nanang. Yang dilombakan ialah pola dan sebanyak-banyaknya lampu dinyalakan.
Tradisi ini di Balikpapan, 115 kilometer di selatan Samarinda, sudah berlangsung tiga tahun. “Kami ingin agar tradisi tetap dilestarikan masyarakat Gorontalo di manapun mereka berada,” kata Darwis.

0 komentar: