Lebaran kurang afdol tanpa ketupat. Nasi padat yang dibungkus daun nipah-nipah itu pelengkap sejumlah masakan khas Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Ketupat penting bagi kalangan warga Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur. Mungkin nyaris tiap hari ada warga yang makan ketupat. Maklum mayoritas penduduk keturunan atau pendatang dari Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan yang masakannya menghadirkan ketupat.
Namun, sedikit warga yang tahu tempat membuat bungkus ketupat. Yang amat terampil membuatnya ialah warga Gang Anugerah di RT 14 Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang. “Seratus keluarga di gang ini semuanya bisa buat ketupat,” kata Ketua RT 14 Aspar yang juga perajin dan penjual bungkus ketupat.
Warga ialah keturunan orang Banjar asal Kalimantan Selatan. Mereka bermukim di gang di tepi Mahakam, sungai terpanjang di Kalimantan Timur, sejak 1950-an. Keterampilan membuat bungkus ketupat diwariskan turun temurun.
Warga juga sempat membuat pembungkus tembakau atau disebut rokok daun dari daun nipah-nipah selain ketupat hingga 1990. Rokok daun dibuat untuk dijual kepada orang-orang tua Dayak dari pedalaman di hulu Sungai Mahakam.
Ada dua jenis ketupat. Yang sisinya sepuluh sentimeter untuk soto banjar. Potongan-potongan ketupat terendam dalam makanan khas orang Banjar itu. Yang kecil atau sisinya lima sentimeter dihidangkan terpisah dengan coto makassar khas Sulawesi Selatan. Ketupat kecil biasanya dipotong-potong untuk ketoprak atau ketupat sayur khas Jakarta.

“Yang kecil seratus rupiah satu bungkus. Yang besar lima ratus rupiah satu bungkus,” kata Samsiah sambil merajut dua lembar daun menjadi satu ketupat kecil cuma dalam semenit. Namun, menurut perempuan dengan dua anak itu, harga di pasar bisa dua hingga tiga kali lipat.
Bahan baku, lanjut Aminah, pembuat ketupat, dibeli dari pengambil daun. Harga satu ikat Rp 12.000 hingga Rp 15.000. Satu ikat daun bisa dibuat 300 ketupat dan tiga ikat sapu lidi. Seikat sapu dijual Rp 1.000.
Aspar mengatakan, seorang warga bisa membuat 200 bungkus ketupat kecil dan besar dalam sehari. Warga menangguk rezeki nomplok selama Ramadan ini sebab 5.000 ketupat bisa ludes tiap hari. Pembuat mendapat untung harian Rp 50.000. Namun, di hari biasa, keuntungan cuma separuhnya.
“Biarpun cuma ketupat, tetapi membuat saya mampu menghidupi empat anak,” kata Aspar. Memang, dia sempat menjadi nakhoda kapal tarik gelondongan kayu di sebuah perusahaan 1993-2002. Namun, penghidupan utama ternyata tetap dari hasil menjual ketupat.

Agar ketupat bagus dan tahan hingga sebulan, daun nipah-nipah harus dijemur dalam terik matahari selama satu hari. Bila cuaca mendung minimal dua hari. Daun akan agak kering tetapi tetap lentur untuk dianyam menjadi bungkus ketupat yang warnanya cokelat.
Dengan bungkus itu, nasi yang sudah dikukus akan tetapi putih di luarnya. Itu berbeda bila pengukusan memakai bungkus dari daun yang hijau kekuningan. Tampilan luar nasi akan kemerahan merah seusai dikukus. “Merah karena nasi terkena getah yang keluar dari daun tetapi tidak berbahaya,” kata Aspar.
Ketupat dari daun yang masih hijau ternyata harus segera dijual sebab bisa rusak dalam seminggu. Yang dijemur lebih dulu akan tahan dalam sebulan.
0 komentar:
Poskan Komentar