Rabu, Desember 03, 2008

3 Desember


Mereka yang Menenun untuk Hidup
“Karena suami meninggal lima tahun lalu, cuma hasil penjualan sarung yang bisa menghidupi delapan anak saya,” kata Sumarni, perajin sarung samarinda di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Ketua Kelompok Usaha Bersama Wanita Sejahtera Padaidi Sarung Samarinda itu lega. Ramadan waktu itu satu sampai tiga sarung bisa laku tiap hari. Pembeli bahkan mendatangi rumahnya di Gang Pertenunan Nomor 7 RT 2/RW2 Kelurahan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang.
Keuntungan menjual satu sarung Rp 25.000. Perempuan kelahiran 1961 di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, itu lalu bisa memberi makan keluarga dan mengupah tiga tetangga yang juga perajin.
Kecuali selama puasa dan Lebaran, kata Sumarni yang hijrah 1991 dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sarung yang terjual cuma satu dalam tiga hari. Namun, itu tak membuatnya enggan menenun, keterampilan yang digeluti sejak 1995. Lagipula, dua anak perempuannya sudah menikah. Beban menghidupi anggota keluarga pun berkurang.
Dua puluh perempuan bergabung dengan Sumarni. Selain itu, ada seratus perajin lainnya. Kehidupan mereka bergantung pada keterampilan menenun menghasilkan sarung bermotif kotak-kotak dan berwarna-warni.
“Menenun memang keterampilan kami orang Wajo,” kata Rukiyah, tetangga Sumarni, sambil duduk mengoperasikan alat tenun bukan mesin (ATBM). Satu sarung bisa dihasilkan dalam sehari memakai peralatan dari kayu ulin.
Tangan perempuan kelahiran 1945 di Sengkang itu menghentakkan tongkat kayu atau gedokan guna merapatkan bentangan benang. Bersamaan, kakinya menginjak pedal sehingga naik turun. Ceklak ceklok, demikianlah bunyinya.
Pemakaian ATBM merupakan generasi kedua penenunan dari teknik walida yang masih digeluti segelintir perajin tua. Membuat satu sarung sepanjang dua meter dan lebar delapan puluh sentimeter perlu lima belas hari memakai teknik tradisional orang Wajo.
“Anak muda tidak mau telaten lagi,” kata Waruda, 80 tahun, yang setia memakai teknik walida. Dengan duduk di lantai dan kekuatan tangan, tongkat gedokan dihentakkan agar bentangan benang rapat. Kekuatan tangan kuncinya. Kian kuat tangan menghentak, sarung akan rapat.

Perbedaan
Teknik membuat harga sarung pun berlainan. Selain itu, bahan atau benang sutera dari India, China, atau Indonesia, dan corak. Harga sarung dari sutera lokal memakai ATBM di perajin Rp 175.000. Harga jual di toko bisa Rp 200.000. Harga sarung walida Rp 300.000.
Berdasarkan kualitas produknya, sarung dibagi dalam tiga jenis yakni Sengging, Mastuli, dan Mestres. Sengging terbuat dari benang sutera murni kualitas satu dari Cina yang harganya bisa Rp 600.000. Mastuli memakai sutera kelas dua yang dijual dengan harga Rp 400.000. Mestres dari sutera lokal dijual Rp Rp 200.000.
Harga itu jauh lebih tinggi daripada sarung buatan pabrik di Jawa. Sarung pabrik licin saat disentuh dan tercium bau jeruk yang segar. Harga jualnya cuma Rp 50.000 bahkan ada yang Rp 25.000 tiap buah.
“Gampang saja membedakannya,” kata Teha, perajin sarung dan suami Rukiyah.
Menurut lelaki yang amat terampil membuat pola itu, cabut salah satu benang. Bakarlah benang itu. Bila menjadi seperti karet, berarti asli sebab dari spun silk atau sutera China. Bila benang terbakar jadi abu, berarti palsu.
Ciri lainnya, lanjut Sumarni, sarung asli selalu dijahit horizontal di tengah. Jahitan pun dengan tangan. Bila tiada sambungan, jelas palsu. “Ada dua sambungan karena lebar kain dari ATBM atau walida cuma delapan puluh sentimeter,” katanya.
Namun, sarung ATBM relatif kurang rapat dan serat agak kasar daripada walida. Mungkin itu akibat benang dimasukkan seutas demi seutas ke alat yang disebut are dan sisir pada ATBM sehingga kerap putus saat penenunan.
Pada sarung walida, nyaris tiada serat yang putus. Sarung halus saat dipegang. Mungkin itu akibat rangkaian alat tenun yang amat sederhana dan ketelatenan sehingga sarung kuat, rapat, dan halus.
Bersaing
Hadirnya sarung yang jauh lebih murah, menurut Sumarni, mengancam keberlangsungan hidup perajin. Namun, masuk akal juga, konsumen yang tak tahu membedakan sarung yang asli atau palsu memilih yang murah.
“Semuanya terserah pembeli,” kata Ariyani, perajin lainnya. Sejauh masih ada peminat sarung yang asli, para perajin di Gang Pertenunan itu akan terus ada.
Untuk itu, menurut Teha, perajin bisa mengembangkan corak baru. Namun, jangan sampai tidak lagi membuat corak yang sudah ada dan terkenal misalnya Hatta, Soeharto, dan Sari Pengantin.
“Ketiga corak itu selalu digemari,” kata Sumarni.
Lagipula, karena dibuat dari sutera impor, sarung asli biasanya dipakai kalangan pejabat atau pengusaha untuk Idul Fitri, Idul Adha, perkawinan, dan silaturahmi. Sarung yang dapat dilipat atau digulung hingga segenggam tangan bisa juga untuk cendera mata bagi kalangan elite dan dijual ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

[url=http://vkatalogah.ru/]регистрация сайта в каталогах
[/url]