Sabtu, Juni 14, 2008

14 Juni 2008

Pelajaran kedua dari Belanda.
Pertama, Italia digilas dengan skor 3-0.
Kedua, Prancis dipermalukan dengan skor 4-1.
Entah apa yang sedang merasuki para pemain Belanda. Permainan mereka layaknya anak kecil yang bergembira. Bermain bak tak kehabisan tenaga. Berlari dari ujung lapangan ke ujung satunya. Antarpemain bergantian posisi. Ada bola dijemput. Ada bola ditendang. Namun, semuanya terukur-operan, pengolahan, dan tendangan ke gawang lawan. Inikah taktik total football yang dibungkus keceriaan bermain? Mungkin Marco van Basten sang pelatih yang bisa menjawabnya. Belanda bukanlah tim dengan sederet gelar juara. Prestasi membanggakannya cuma menjuarai Piala Eropa 1988. Pemain legendaris sebesar Johan Cruyff atau Rinus Michel pun tak mampu memberi gelar apa-apa meski di era mereka, total football dikembangkan sehingga memukau seperti sekarang ini. Trio Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Riykaard, memang tak sejenius Rinus Michel sang pencetus total football. Namun, ketiganya mempersembahkan Piala Eropa 1988 dengan menghajar Rusia di final. Namun, Rinus Michel dan Johan Cruyff amat berjasa sebagai peletak dan pengemban total football sehingga pola permainan itu diadopsi Marco van Basten sehingga mampu membuat Italia dan Prancis sekarat. Tidak tanggung-tanggung, Italia, empat kali juara dunia dan juara eropa dihajar tanpa mampu membuat gawang Edwin van Der Sar bobol. Prancis, sekali juara dunia dan dua kali juara eropa bernasib serupa. Dibobol empat gol dan cuma bisa sekali membalas.
Entah 'kekuatan' apa yang menginspirasi Ruud van Nistelrooy, Robin van Persie, dan Dirk Kuyt sehingga mampu menggulung kedua juara dunia itu. Permainan yang enak ditonton, banjir gol, 'bersih', dan membuat gembira. Tampaknya, 15 tim negara peserta Piala Eripa 2008 perlu melihat dan belajar bermain sepak bola dari Belanda. Akankah di game ketiga melawan Rumania, Belanda juga tampil secemerlang saat menghadapi Prancis dan Italia? Ataukah Belanda akan berbaik hati mengalah pada Rumania sehingga impian Prancis atau Italia melaju ke babak selanjutnya pupus sudah? Heh, yang terang, Prancis, Italia, dan Rumania masih berpeluang. Yang terang, Belanda mampu keluar dari panasnya api persaingan di grup neraka.
Namun, yang patut diingat, Belanda kadang menjadi tim yang tak konsisten. Tampil apik di putaran pertama Piala Dunia 1998, Belanda tak mampu berbuat apa-apa di hadapan Prancis dan Argentina. Piala Dunia 1994 pun senada. Belanda tampil apik tetapi ceroboh menghadapi Brasil. Masa lalu harus menjadi pelajaran berharga. Tengoklah kehebatan saat menjungkalkan tuan rumah Jerman Barat pada Piala Eropa 1988. Semoga, semangat yang dulu dibawa Marco van Basten saat bermain, tampak juga saat ia memimpin tim dari bangku pelatih. Selamat Belanda.

0 komentar: