Jumat, Juni 13, 2008

13 Juni 2008

Kroasia menghajar Jerman 2-1 dini hari tadi.
Mungkin itu sebuah pelajaran tentang apapun. Bisa tentang bagaimana seharusnya anggota Der Panzer-Jerman- bersikap, berperilaku, atau menghadapi lawan. Bisa juga tentang bagaimana seharusnya Joachim Lowe memilih, mengolah, dan menerapkan taktik. Bisa juga tentang bagaimana seharusnya pertandingan itu sendiri. Ataukah bisa juga tentang sesuatu yang tak kelihatan yang berada di luar pertandungan itu?
Nah, siapa sih Kroasia yang mampu menghancurkan kampiun 3 kali juara dunia, Jerman? Siapa sih negeri yang mampu menghempaskan impian Inggris tampil di Euro 2008? Toh, mungkin banyak orang menganggap Kroasia cuma sempalan dari Yugoslavia. Toh, Kroasia ibarat dianggap semut di antara raksasa-raksasa sepak bola Eropa seperti Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, dan Italia. Mungkin begitu sebab tak pernah merasakan manisnya gelar juara di daratan Eropa apalagi dunia. Ya, sebab negeri itu masih muda. Jauh lebih muda daripada usia para pemainnya. Di Euro tahun ini, Kroasia tak memerlukan lagi pemain-pemain hebat seperti Davor Suker. Namun, buktinya, tradisi keperkasaan Kroasia atas Jerman masih berlanjut. Sepuluh tahun lalu di Piala Dunia, kita masih ingat, Kroasia menghajar Jerman 3-0. Kini, Der Panzer dipaksa menyerah 2-1. Beberapa hal yang mungkin membuat legenda hidup Frans Beckenbaeur susah tidur. Ah, prestasi Jerman yang diasuh Lowe tak secemerlang saat dilatih dirinya atau sebaik Juergen Klinsmann.
Di lapangan, boleh dilihat. Keperkasaan pemain Kroasia ibarat terbungkus kerendahan hati. Lain halnya dengan pemain Jerman yang frustasi, kasar, berlagak jagoan tetapi tak menghasilkan apapun. Beruntunglah Jerman memiliki Lukas Podolski. Sang pencetak gol yang tenang. Yang terlihat baik (entah kelakuan di luar) di lapangan. Yang terlihat rendah hati. Dengan gol balasannya pada menit-79, Jerman setidaknya tak terlalu malu. Ya, memang Podolski bukan Tuhan. Gol semata wayangnya tak mampu membuat Jerman lepas dari kekalahan. Tetapi setidaknya, kepala Jerman tak perlu begitu tertunduk lesu.
Hati ini terasa perih. Sejak 1986, Jerman adalah kesebelasan yang dibanggakan. Tak pelak, saya merindukan pemain-pemain seperti Lothar Matthaeus, Andreas Brehme, Juergen Klinsmann, Thomas Helmer, Andreas Kopke, Oliver Bierhoff. Merekalah yang ikut menyumbang Piala Dunia 1990 dan Piala Eropa 1996. Sayang, generasi Jerman saat ini, Michael Ballack, Markus Lahm, Miroslav Klose, tak mampu berbuat banyak. Keangkuhan dan suka membuat gara-gara di lapangan lebih menonjol terlihat daripada kualitas mengolah bola dan merobek jala lawan. Tampaknya, mesin Panzer ini sudah lapuk meski baru. Entah mesin tim ini dibuat dan dirakit di mana sehingga kurang tokcer.
Di atas semua itu, sepak bola adalah permainan, adalah pertandingan, adalah drama kehidupan. Dalam permainan ada kegembiraan. Dalam pertandingan ada yang menang dan yang kalah. Dalam drama ada kebohongan, kelicikan, sekaligus kejujuran dan keindahan. Jerman tampaknya harus lebih bersabar, rendah hati, dan berusaha keras juga cerdas. Selain itu, pertahankan mental juara. Masih ada celah sempit untuk lolos ke putaran selanjutnya. Nah, Lowe harus berpikir keras. Seperti apa ramuan BBM agar Panzer 'Arya' itu langsung panas sejak kick-off sampai pertandingan usai, rakus gol, tetapi juga berjalan lurus alias jujur.

daritepianmahakamyangmasihmemfavoritkanjerman

0 komentar: