Jumat, April 04, 2008

17 Mei 2007

Pesona Terpendam Karst Kutai Timur

Seorang teman pernah berkata, gua-gua ibarat mutiara terpendam. Banyak orang tidak tahu keindahannya. Masyarakat di sekitar lubang atau terowongan besar alami itu kadang juga tidak tahu. Ironis. Sekali lagi ironis.

Apa gua-gua tidak memesona? Kalau diibaratkan perempuan, apa juga tidak menarik? Kurang seksi?

Saya berani jawab tidak. Justru, keindahan gua-gua tak kalah dengan pesona pemandangan pantai atau gunung. Memang masing-masing tak bisa dibandingin begitu saja. Namun, gua-gua tetap punya kekayaan sendiri yang pasti unik.

Itulah alasan untuk tidak melewatkan tawaran menengok Gua Tewet dalam kawasan perbukitan batu kapur Karst Sangkurilang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Pesonanya nyata. Ada apa memang di sana? Ternyata, dinding gua itu hampir dipenuhi gambar tapak-tapak tangan manusia berusia 15.000 tahun.

Sebelum sampai di sana, saya terus penasaran dan gelisah. Semua rasa itu sirna seperti dikibas oleh keindahan gambar purba itu. Cukup lama saya melongo seperti orang bodoh ketika memandangi tapak-tapak tangan itu.

Bagaimana tidak, di hadapan saya bertebaran gambar yang usianya sangat tua. Jauh lebih tua daripada lukisan Monalisa karya Leonardo Da Vinci yang terkenal itu. Sekali lagi, jauh lebih tua.

Kalau mau melihat Monalisa, tentu harus ke luar negeri. Itupun tidak bisa dari dekat. Kalau tapak-tapak itu, mau dipelototin dari jarak satu sentimeter saja bisa. Namun, jangan disentuh biar enggak rusak.

Keajaiban

Tapak-tapak itu berkelompok di tiga bagian. Satu di dekat mulut gua. Dua kelompok di dalam. Bisa jadi, tembok gua dulu penuh tapak. Namun, secara alami bisa saja dinding mengelupas atau terkena air sehingga gambar pun lenyap.

Gambar kolot banget itu bermotif tapak tangan membuka milik orang dewasa. Ada yang berukuran lebih kecil. Boleh jadi itu milik bocah. Tapak-tapak ada yang merah, merah kecokelat-cokelatan, merah kebiru-biruan, dan ungu.

Dilihat dari bentuknya, boleh jadi cara bikin gambar itu dengan menaruh tangan di dinding lalu disemprot dengan warna-warna semau yang buat. Akhirnya, yang tertinggal adalah gambar bermotif tapak tangan.

Kayaknya memang demikian. Bukti bisa dilihat dari keberadaan bentuk bundar di sekitar motif tapak. Kuat dugaan itu bekas warna-warna yang dicipratkan.

Selain motif tapak, ada juga motif titik-titik dan garis-garis di dalam atau di antara tapak-tapak. Ada juga gambar manusia dan binatang. Namun, tetap saja arti gambar secara keseluruhan enggak ada yang ngerti.

Makanya, beberapa orang dari berbagai lembaga terus meneliti maksud orang zaman baheula bikin tapak-tapak itu. Kayaknya tidak berlebihan kalau peninggalan leluhur moyang itu disebut keajaiban.

Di mana letak keajaibannya? Jelas, bagaimana bisa gambar tetap ada setelah belasan ribu tahun dibuat. Selain itu, belum bisa dipahami maksud atau arti tapak-tapak itu.
Setelah puas bengong dan sok tanya sana-sini, saya puas. Capek dan pegal-pegal berperahu 2,5 jam dalam terik sinar matahari dari permukiman terdekat Ambur Batu lunas terbayar.

Berkesan

Gua Tewet memang rongga besar di tebing karst. Tidak jauh beda dengan mulut menganga tetapi besar banget. Luasnya setara kelas berkapasitas 50 murid. Gua berada 20 meter dari tanah. Untuk itu, wajib manjat tebing curam seperti Spiderman kalau ingin masuk ke gua.

Sayang, di gua itu sedikit terdapat stalagtit-batuan kapur meruncing ke bawah yang menggantung pada langit-langit gua. Demikian pula sedikit stalagmit, ornamen sejenis tetapi menempel di dasar gua.

Boleh jadi kedua ornamen alami itu dulu banyak tetapi dicuri orang. Buktinya ada beberapa ornamen yang patah. Bisa jadi juga rusak alami. Kalau saja ada banyak kedua ornamen itu juga ada tetesan air, kayaknya cantik banget.

Tanpa kedua ornamen itu, Gua Tewet ibarat sayur tanpa garam alias tidak lengkap. Namun, tapak-tapak yang ada pasti mampu menumbuhkan kekaguman, setidaknya buat saya.

Lokasi

Gua itu lebih dekat dijangkau dari Ambur Batu. Permukiman baru itu dua jam naik mobil dari Sangatta, ibu kota Kabupaten Kutai Timur. Tak sulit menemukannya karena berada di tepi Jalan Lintas Utara Kalimantan Timur.

Sampai sekarang belum ada jalan darat mencapai gua itu. Dengan berperahu? Jelas serta jenis alat transportasi sungai itu yang dipakai hanya muat lima orang. Sudah begitu, pengunjung gua harus pakai pelampung biar selamat kalau tercebur akibat perahu terbalik.

Sebelum berperahu, lebih baik minum-minum dan makan-makan dulu di warung. Sempatkan membawa bekal untuk perut yang selalu lapar. Maklum tidak ada warung kecuali pondok pembalak hutan dan pencari sarang burung walet.

Perjalanan ke Gua Tewet berarti berperahu ke hulu Sungai Bengalon. Perahu atau ketinting kecil lumayan keren karena sudah bermesin. Sayang, tenaganya cuma lima daya kuda jadi enggak bisa ngebut seperti motor balap. Jadi, sabar saja selama dua jam berperahu.

Satu ketinting ditumpangi lima orang. Seorang kemudi di belakang menjalankan mesin, seorang juru batu di depan mengendalikan arah ketinting mengindari bebatuan dan riam-riam, dan tiga penumpang di tengah.

Apa buah kesabaran selama perjalanan? Kalau beruntung bisa melihat burung enggang, elang, alap-alap, bangau, dan pemakan ikan. Selain itu, monyet dan bekantan sering mejeng di pohon atau tebing-tebing karst.

Cuma itu? Tidak. Saya menjumpai kerbau penduduk yang berendam di sungai. Malah, kata seorang juru batu, ada juga buaya sungai. Yang terakhir ini membuat agak merinding. Tak terbayang kecil atau besar reptil Sungai Bengalon itu sebab kurang jelas dilihat ketika perjalanan.

Apakah masih ada lainnya? Selama perjalanan bisa dilihat keindahan deretan tebing kapur yang putih. Dengan latar langit biru yang cerah, sudah pasti sayang kalau tidak diabadikan dengan kamera.

Kendati demikian ada juga pemandangan ironis. Bantaran sungai itu tidak rimbun oleh pepohonan. “Dibabat perambah liar,” kata seorang juru batu.

Perkataan itu masuk akal dan bisa dipercaya. Sepanjang perjalanan dapat dilihat kilang-kilang kayu penduduk. Juga dijumpai pondok-pondok perambah.

Perjalanan berasa agak tersiksa akibat pepohonan yang nyaris gundul. Panas membuat saya selalu haus dan gelisah ingin cepat sampai. Lebih baik membawa payung kalau suatu saat kembali lagi.

Gua Tewet adalah satu di antara banyak situs purba dalam kawasan Karst Sangkurilang - Mangkaliat yang membentang sepanjang 200 kilometer. Kawasan itu berada dalam wilayah administratif Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau.

Berbagai referensi menunjukkan bahwa terdapat ribuan gua dalam kawasan itu. Namun, hanya seratusan gua yang pada dindingnya dipenuhi lukisan tapak tangan manusia purba.
Selain itu, di beberapa gua purba juga ditemukan kerangka manusia, gerabah, dan peti mati kayu (lungun). Semua itu diperkirakan juga berusia ribuan tahun.

Gua Tewet dinamai demikian supaya tidak terjamah orang-orang vandal. Gua-gua purba dalam kawasan karst itu kini diteliti oleh beberapa lembaga. Selain itu, status gua sedang diusulkan agar menjadi warisan dunia sehingga dilindungi secara khusus. Luar biasa!

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Pak A.Harto.
Kami maret 2008 bersama rekan2 kerja dari PTB Bontang juga telah berkunjung ke sana. selain foto kami rekam juga dengan Video. termasuk di gua "Batu Aji" dan beberapa gua walet lainnya. Mulai dari desa Hambur batu. Sebetulnya kami belum puas dan akan explorasi Gua2 lainnya yang ada di Kawasan tsb. seperti "Liang Karim", "Keboboh","Liang Jon","Gua Tengkorak" dsb.
Kami sempat bermalam di gubuk penjaga sarang walet. Next Time akan kami persiapkan lebih matang. Beberapa Gua Alam di sekitar Bontang juga sudah kami jelajahi.
Setuju agar cagar Alam & Budaya harus dilindungi. salam