Minggu, Januari 27, 2008

27 Januari 2008

13.10 Wita
saya sedang berada di rumah makan (restaurant) Bondy di Jalan A Yani, Balikpapan, Kalimantan Timur. di sana saya bertemu dengan sejumlah orang antara lain Wali Kota Tarakan Jusuf Serang Kasim dan segelintir pejabat Pemerintah Kota Tarakan, karyawan perusahaan, dan wartawan.

ketika di ruang karaoke itulah kami mendengar mantan Presiden RI ke-2 Soeharto meninggal. Jenderal Besar (bintang lima) itu kami dengar menghembuskan nafas terakhir di RS Pusat Pertamina, Jakarta. dan segera saja tayangan di televisi lebih menyita perhatian kami daripada hidangan yang sudah tersedia atau obrolan sebelumnya.

Soeharto, saya mengalami masa pemerintahannya serta kejatuhannya. saya pun ikut menjadi bagian dari gerakan 1998 mulai semasa menjelang akhir SMA hingga awal masuk kuliah di Yogyakarta. 21 Mei 1998 adalah hari yang tidak terlupa. saat itu, Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai presiden yang lalu digantikan oleh Burhanuddin Jusuf Habibie sang wakil. tak terkira kekagetan saya mendengar pidato yang ditayangkan televisi saat itu.

27 Januari 2008, nyaris sepuluh tahun kemudian, Soeharto kembali mengagetkan saya. kekagetan itu ialah perginya dia menuju Kehidupan Selanjutnya. saya pun kembali kaget dan bingung entah kenapa. ya, seseorang di antara kami mengabarkan Soeharto meninggal. dan kami pun segera mencari televisi terdekat untuk melihat perkembangan informasi.

Ya, Soeharto, selamat jalan. semoga Bapak diterima di sisi-Nya. terima kasih atas jasa-jasa yang telah Bapak berikan untuk bangsa ini. tetapi saya juga tidak lupa dengan sederet cacian, hujatan, tudingan, fakta, tentang masalah-masalah yang pernah Bapak buat. di satu sisi, saya pun bingung ketika mendengar ajakan untuk memaafkan Bapak. dosa apa yang Bapak lakukan kepada saya sehingga saya harus memaafkan Bapak? aneh. sepanjang saya menjalani kehidupan sejak 1979 hingga saat ini (sebagian besar di masa pemerintahan Bapak), saya hanya tahu Bapak dari layar televisi dan foto serta berita di koran dan majalah. belum pernah saya menyentuh atau bahkan bersalaman atau malah berfoto bersama dengan Bapak. dan kembali saya merasa aneh apakah saya harus memaafkan Bapak?

memang Bapak ada kesalahan, jelas harus dimaafkan. juga, saya mendoakan agar Bapak tenang di Alam Baka. tersenyum di sana seperti semasa Bapak hidup. selamat jalan Bapak Smiling General .... selamat bertemu kembali dengan istri tercinta-Ibu Tien

0 komentar: